Laporan Kegiatan
Laporan Webinar Nasional "Beyond Analgesics: Radiofrequency Ablation As A Modern Solution For Chronic Pain Through Minimally Invasive Approaches And Interprofessional Collaboration" 2026
Menurut IASP (International Association The Study of Pain) nyeri adalah
pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan
baik aktual maupun potensial yang berdampak signifikan pada kualitas hidup pasien.
Banyak pasien yang datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri punggung, nyeri leher,
nyeri sendi (misal lutut, bahu) atau nyeri neuropatik yang tidak membaik dengan terapi
konservatif seperti obat analgesik, fisioterapi dan injeksi steroid. Dalam situasi seperti ini,
diperlukan pendekatan intervensi yang lebih efektif untuk mengurangi rasa nyeri,
meningkatkan fungsi dan mempercepat kesembuhan pasien (Munir B, Santoso WM, Afif
Z, Kurniawan SN, 2020).
Radiofrequency Ablation (RFA) merupakan suatu metode teknik intervensi
minimal invasif yang sering digunakan untuk mengatasi nyeri di era modern. Metode
terapi ini memanfaatkan energi panas yang dipancarkan gelombang radio untuk
menghambat kerja serabut saraf yang menghantarkan sinyal rasa nyeri ke otak. Metode
ini dapat membantu mengurangi persepsi nyeri tanpa memerlukan operasi besar
(Cleveland clinik, 2022).
Penelitian yang melibatkan 33 studi dengan total pasien lebih dari 1300 (53,7%)
tindakan RFA terbukti menghasilkan reduksi nyeri yang signifikan sekitar 85%
mengalami penurunan skor nyeri ≥4 poin. 15% sisanya menunjukkan efektivitas sedang
(penurunan ≥2 poin) pada pasien dengan metastasis tulang belakang. Rata-rata skor
nyeri menurun dari nilai awal skala nyeri vas 7/6 menjadi kurang dari 3 dalam beberapa
minggu & bertahan hingga 24 minggu setelah tindakan. Selain itu, komplikasi serius
sangat rendah, menunjukkan bahwa RFA aman sekaligus efektif untuk paliatif nyeri
tulang belakang (Jacopo Scagginate, 2025).
Tindakan RFA termasuk dalam kategori tindakan minimal invasif yang tidak
memerlukan sayatan besar seperti pada operasi terbuka, hal ini dapat mengurangi risiko
komplikasi seperti infeksi dan perdarahan pada luka bekas operasi, mengurangi nyeri
dengan signifikan, mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan obat-obatan,
serta durasi waktu pemulihan yang cepat, dimana pasien bisa pulang pada hari yang
sama dan kembali ke aktivitas ringan dalam 24–48 jam (Vladislav P Zhitny, Ryan
Jannoud , Jake P Young , 2024).
Keberhasilan tindakan RFA tidak hanya ditentukan oleh kompetensi dokter,
tetapi juga sangat dipengaruhi oleh peran perawat dalam persiapan pasien, edukasi,
asuhan keperawatan, serta monitoring pasca tindakan. Kolaborasi dokter dan perawat
menjadi kunci utama dalam menjamin keselamatan pasien, efektivitas terapi, serta
kontinuitas asuhan nyeri yang berfokus pada pasien (patient-centered care).
Seiring meningkatnya kebutuhan pelayanan nyeri intervensional di fasilitas pelayanan
kesehatan, diperlukan upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman tenaga kesehatan
mengenai konsep nyeri, indikasi dan prosedur RFA, serta peran kolaboratif antar profesi.
Menjawab kebutuhan tersebut, RSUP dr. Kariadi Semarang sebagaimana tertuang dalam
keputusan Direktur utama nomor HK.02.03/D.X/1480/2025 tentang tim pengembangan
pelayanan nyeri terpadu. Berangkat dari latar belakang ini, kami menyelenggarakan Webinar
Nasional dengan tema "Beyond Analgesics: Radiofrequency Ablation as a Modern
Solution for Chronic Pain through Minimally Invasive Approaches and Interprofessional
Collaboration" sebagai wadah ilmiah untuk berbagi pengetahuan, pengalaman klinis, dan
penguatan praktik berbasis bukti terkini.
No other version available